Laporan World Food Program (WFP) 2009 menyebutkan bahwa hasil pertanian meningkat. Dalam periode 2004-2007 laju peningkatan sekitar 3,5% per tahun. Bahkan pada tahun 2008 sampai 4,8%. Peningkatan produksi ini sebagian besar disumbangkan oleh petani kecil.

Pangan yang beredar di dunia ini lebih dari setengahnya oleh produsen sekala kecil. Dalam laporannya Viable Food Future mengungkapkan bahwa 50% pangan yang ada dihasilkan oleh petani kecil, sementara industri kontribusinya hanya 30% saja. Hal senada diungkapkan oleh FAO tahun 2004. Dalam laporannya FAO menyebutkan bahwa selama empat dekade terakhir produksi beras domestik, yang dihasilkan petani kecil, mampu memenuhi sekitar 97% dari total pasokan yang dibutuhkan setiap tahunnya.

Fakta-fakta tersebut menampakan dengan tegas kontribusi petani kecil dalam pemenuhan pangan. Di Indonesia, 70% penduduknya merupakan keluarga petani. Sebagian besar keluarga petani tinggal di pedesaan adalah penyedia pangan bagi 237 juta jiwa.

Jika dilihat lebih jauh, penyedia pangan saat ini didominasi oleh perempuan. Data BPS 2006 menyebutkan bahwa periode 2001-2006 keterlibatan perempuan dalam proses produksi terus meningkat dimana jumlah petani perempuan sebanyak 55,2%, sedangkan petani laki-laki sebanyak 46%.

Dewasa ini peran perempuan dalam sektor publik di Indonesia juga meningkat seiring dengan perkembangan teknologi. Meningkatnya keterlibatan perempuan dalam sektor publik di Indonesia dapat dilihat dari hasil survey BPS selama tahun 2001-2006, dimana jumlah Petani Perempuan di Indonesia sebanyak 55,2% sedangkan Petani laki-laki sebanyak 46%. Data ini menunjukkan bahwa Petani Perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam proses kegiatan sektor publik.(BPS, 2006)

Perempuan dalam lumbung pangan

Lumbung pangan komunitas merupakan sistem pangan yang ditumbuhkembangkan (kembali) dimasyarakat. Lumbung pangan bukan lembaga pangan baru dalam masyarakat. Lumbung telah hidup dan menjaid bagian perkembangan kebudayaan masyarakat. Dalam masanya, lumbung menjadi kelembagaan sekaligus sistem pangan yang tahan banting.

Memahami besarnya potensi ini, lumbung sebagai sistem kembali diinisiasi. Dalam prakteknya lumbung melibatkan seluruh anggota komunitas, laki-laki dan perempuan.

Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan lumbung pangan sangat besar. Sebagai contoh dilumbung Dowaluh, Bantul. Di lumbung ini petani perempuan terlibat dalam seluruh proses dan kegiatan. Dalam hal produksi, perempuan di lumbung berperan dalam penyiapan benih, pengelolaan lumbung benih, penanaman dan penyiangan. Bahkan, untuk penyediaan pupuk bagi anggota lumbung, petani perempuan yang mengelompokkan diri menjadi produsen pupuk lah yang menyediakannya.

Petani perempuan juga menjadi motor bagi pengelolaan keuangan mikro anggota lumbung. Saat ini keuangan mikro petani telah berkembang dan sanggup melayani petani diluar anggota lumbung. Dalam hal distribusi-konsumsi, selain berperan dalam pengolahan, petani perempuan juga menjadi leader bagi proses pendidikan pangan. Melalui perempuan inilah upaya diversifikasi pangan dilakukan setidaknya dalam tataran kelompok lumbung.

Begitu pula ketika memasuki paska panen, peran perempuan sangat besar karena aktifitas pengolahan biasanya diperankan perempuan. Hal yang sama juga berlaku pada penyimpanan, dan pengaturan pola konsumsi untuk keluarga.

Besarnya peran perempuan dalam penyediaan pangan seperti terlihat dalam lumbung pangan ternyata tidak menempatkannya menjadi lebih mulia. Fakta menunjukkan bahwa dari keluarga petani yang ada saat ini 60% diantaranya merupakan keluarga miskin. Selain bergelut dengan kemiskinan, petani juga dihadapkan pada situasi yang justru terus melemahkan posisinya.

Hampir semua kebijakan disektor pertanian bias laki-laki dan kental nuansa korporasi-kapitalistik. Secara umum kebijakan pangan-pertanian disandarkan pada korporasi mulai dari penyediaan input pertanian (benih, pupuk dll) hingga pasar. Hal ini dapat dilihat dalam program-program yang pemerintah gulirkan. Selain lebih mengedepankan laki-laki sebagai aktor utama ketimbang perempuan. Seringkali program tersebut juga sarat dengan muatan input pabrikan semisal paket bantuan benih, dan pupuk. Penggunaan input luar (pabrikan, semisal benih hibrisa) menghilangkan peran-peran perempuan dalam pemuliaan benih.

Pendekatan semacam ini tentu saja akan meminggirkan peran-peran petani perempuan. Jika ini terus terjadi tentu saja sebuah pengingkaran atas kenyataan. Petani perempuan pemberi makan rakyat negeri ini, namun dianggap tak berarti, tak ada. Menjadi keharusan berterima kasih kepada petani perempuan bukan justru melupakannya!.

Leave a Reply

COMMENTS