Sebagai kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup setiap manusia, pemenuhan pangan merupakan bagian dari hak hidup manusia. Hak atas kecukupan pangan dan terbebas dari kelaparan merupakan hak asasi yang paling mendasar. Presidential Commission on Hunger dengan tegas menyatakan bahwa pemenuhan hak asasi atas pangan dan gizi amat utama.

Hak-hak asasi yang lain tidak mungkin bisa terjamin tanpa lebih dulu menjamin hak atas pangan dan gizi. Akses terhadap pangan yang cukup merupakan bagian penting dalam hak asasi manusia atas pangan yang cukup. Pangan yang diakses harus cukup dalam arti kualitas dan jumlahnya. Akses terhadap pangan yang cukup diartikan sebagai gizi, kalori dan protein yang dikonsumsi.

Kelaparan dan kurang gizi merupakan akibat kurangnya akses terhadap pangan yang cukup. Kurang gizi tidak hanya disebabkan oleh kurangnya jumlah pangan yang dikonsumsi, tetapi mungkin karena kualitas pangan yang buruk. Pangan yang cukup juga mengacu pada lingkungan sosial-ekonomi dan budaya masyarakat bersangkutan.

Hak atas pangan mencakup antara lain hak untuk bebas dari kelaparan, hak untuk memperoleh air minum yang aman, hak untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya, termasuk bahan bakar untuk memasak. Hak atas pangan yang cukup berarti setiap orang, baik perempuan, laki-laki maupun anak-anak secara individu dan komunitas harus memiliki akses baik secara fisik serta ekonomi terhadap pangan sepanjang waktu. Hak atas pangan yang cukup/layak merupakan bagian dari hak atas standar hidup yang layak. Sebagai salah satu hak asasi manusia (HAM), pangan diakui secara universal sebagai hakhak yang melekat pada manusia karena hakikat dan kodrat kelahirannya sebagai manusia.

Dikatakan “universal” karena hak-hak ini dinyatakan sebagai bagian dari kemanusiaan setiap manusia, tanpa memedulikan warna kulit, jenis kelamin, usia, latar belakang kultural ataupun agama dan kepercayaan spiritualitasnya. Sementara itu, dikatakan “melekat” atau “inheren” karena hak-hak itu dimiliki siapa pun berkat kodrat kelahirannya sebagai manusia dan bukan karena pemberian orang atau organisasi apapun. Karena dikatakan “melekat” itu pulalah, pada dasarnya hak-hak ini tidak boleh dirampas atau dicabut.

Pengakuan atas adanya hak-hak manusia yang asasi memberikan jaminan-secara moral dan demi hukum-kepada setiap manusia untuk menikmati kebebasan dari segala bentuk perhambaan, penindasan, perampasan, penganiayaan atau perlakuan apa pun lainnya yang menyebabkan manusia itu tak dapat hidup secara layak sebagai manusia yang dimuliakan Allah. Berabadabad lamanya manusia dalam jumlah massal hidup dalam keadaan tak diakui hak-haknya yang asasi demikian itu. Jutaan manusia dalam sejarah hidup dalam kedudukannya yang rendah sebagai ulur-ulur atau hamba-hamba. (bagian 1 dari 2)

2 Responses so far.

  1. Yeni Agustien Harahap says:

    tulisan ini bagus yang memberitahukan dan menunjuk hak asasi manusia. sesungguhnya kita hidup untuk memperoleh hak setelah kita melakukan kewajiban. sebagai ummat yang ingin mendapatkan hak harus melaksanakan kewajiban, kewajiban kita adalah menjaga keadaan alam, lingkungan dan hubungan baik dengan sesama makhluk hidup. tidak boleh egois untuk memenuhi hidup dari lingkungan. harus ada keselarasan antara kewajiban dan hak. hak untuk pangan harus diberikan kepada setiap yang bernyawa dan setiap yang bernyawa harus bersinergi selaras dengan alam. adanya pangan untuk kehidupan para makhluk hidup.

  2. Lely says:

    Wah, terimakasih tulisannya. Dapat informasi dan pengetahuan tentang pangan, kaitannya dengan ancaman rawan pangan di wilayah kerja organisasi kami.
    Sayang ya, ancaman rawan pangan seperti kurang mendapat perhatian publik termasuk kalangan organisasi non pemerintah, kalau menarik dengan isu-isu politik lainnya.

    Salam,
    Lely

Leave a Reply

COMMENTS