Setiap tahun di Indonesia pertumbuhan penduduk semakin pesat. Tingginya jumlah penduduk memunculkan berbagai permasalahan. Permasalahan kompleks mulai muncul seperti kemiskinan, pendidikan, kriminalitas, lahan pekerjaan, tempat tinggal, serta ketersediaan pangan.  Masalah mengenai ketersediaan pangan saat ini menjadi hal yang cukup rumit walaupun saat ini banyak teknologi modern yang muncul.

Setiap tahun Indonesia bergelut dengan persoalan pangan karena sangat tergantung dengan beras. Padahal sumber pangan di negeri ini sangat banyak, salah satunya ubi jalar. Ubi jalar merupakan salah satu tanaman rambat yang memiliki umbi di akarnya dan dapat diambil manfaatnya sebagai pengganti makanan pokok. Masyarakat lokal mengkonsumsi umbi-umbian ini sebagai makanan pengganti nasi karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi yaitu 20.1 gram per 100 gram atau setara dengan energi 86 kcal.

Berdasarkan hasil penelitian kandungan gizi lainnya dalam ubi jalar adalah serat yang baik bagi kesehatan. ubi jalar memiliki kandungan serat dua kali lipat dari kentang. Artinya, ubi jalar dapat menurunkan berat badan bagi yang mengkonsumsinya. selain itu ubi jalar juga mengandung vitamin A, C, B6, D dan kalium, serta kadar air yang tinggi yang dibutuhkan tubuh.  Ubi jalar juga aman untuk dikonsumsi penderita diabetes karena kadar Glycemic Index (GI) lebih rendah dibandingan nasi dan roti.  Dalam ubi jalar juga mengandung antioksidan yang membantu menyeimbangkan pencernaan, mineral penting seperti magnesium dan zat besi. Kemudian yang tak kalah penting adalah mengkonsumsi ubi jalar dapat melawan kanker.

Diversivikasi pangan pokok di Indonesia harus dikembangkan agar tidak menimbulkan ketergantungan hanya pada satu bahan makan pokok saja seperti halnya beras.  Pasalnya jika seluruh masyarakat Indonesia hanya menggantungkan pangan pokok mereka pada beras maka keberlanjutan makanan lokal akan tergerus dan makin dilupakan. Hal itu menyebabkan tingkat konsumsi beras yang tinggi tanpa disertai dengan produksi dalam negeri yang memadai.

Dari tahun 1993 sampai dengan tahun 2012 luas panen untuk komoditas ubi jalar mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Dibandingkan tahun 1993, pada tahun 2012 luas areal panen ubi jalar berkurang sebanyak 39.461 ha hingga menjadi 180.585 ha saja. Dalam hal  produktifitasnya walaupun mengalami peningkatan namun dalam jumlah sedikit. Selama kurun waktu 19 tahun sejak 1993, produksi ubi jalar hanya mengalami peningkatan 368.985 ton.  Hal tersebut menandakan adanya masalah serius yang mengakibatkan lahan panen tersebut berkurang sehingga mempengaruhi jumlah produksinya setiap tahun.

Dalam membudidayakan tanaman ubi jalar diperlukan syarat tumbuh yang baik agar perkembangannya maksimal diantaranya ditanam di ketinggian 500-1000 m dpl dengan suhu  antara 25-270C dan curah hujan antara 750-1500 mm/tahun dan pH tanah 5,5-7,5.  Ukuran ubi dinilai kurang memuaskan karena tingkat penyerapan zat-zat penting untuk akar kurang maksimal.  Ubi jalar yang akan dipenen bila musim kemarau panjang diguyur hujan dengan intensitas rendah biasanya ubi akan membusuk belum lagi serangan hama penyakit yang menyebabkan turunnya atau bahkan gagal panen yang tentunya merugikan dan dapat menyusutkan semangat petani untuk menanamnya.

Keterbatasan dana merupakan salah satu masalah yang kerap terjadi bagi sebagian petani kecil dan dilihat dari segi perannya, ubi jalar bukan merupakan makanan pokok seluruh masyarakat Indonesia.  Dilihat dari luas lahan panen yang semakin menyusut, besar kemungkinan persaingan lahan antara masyarakat untuk pembangunan dan menanam tanaman bernilai ekonomi lain yang lebih tinggi menjadi salah satu penyebab berkurangnya lahan produksi.  Daya jual ubi jalar di pasar kurang menggiurkan dibandingkan tanaman pangan yang lain salah satu alasan yang disebut-sebut sebagai dalang menurunnya antusias bertani ubi jalar.

Ubi jalar sesungguhnya bisa dikembangkan sebagai alternatif pangan pokok. untuk itu diperlukan dukungan serta peran stakeholder terkait dalam pengembangannya. Selain dukungan dan pengembangan teknologi yang bisa diimplementasikan petani juga diperlukan kebijakan yang berpihak kepada petani lokal. Dengan dukungan ini diharapkan kedepannya ubi jalar bukan hanya sebagai makanan masyarakat lokal saja tetapi bisa menjadi makanan yang disenangi untuk menggantikan nasi sebagai pangan pokok.

Leave a Reply

COMMENTS