Jam baru menunjukkan pukul 7.05, matahari sudah cukup hangat saat saya mengayuh sepeda menyusuri jalan Tien Soeharto yang membelah sawah, membentang dari simpang lima tugu mangga hingga kilang pengolahan pertamina Indramayu. Tak jauh dari rumah, hamparan sawah membentang kanan kiri jalan.

Sesaat menyurusi jalan, udara segar berganti dengan aroma khas pestisida.  Blok sawah Pekandangan terlewati. Terlihat lima petani sedang menyemprot sawahnya.
Selepasnya, blok sawah kalibuntu dilalui. Tak berbeda dengan sebelumnya. Beberapa petani sedang menyemprotkan pestisida di sawahnya. Baunya tajam, menusuk hidung, menyesakan nafas. Mengirupnya dalam waktu lama sungguh membuat kepala pusing mual.

Pun demikian dengan blok ciwatu yang berbatasan langsung dengan kilang pertamina, balongan. Sebagian petani menyemprot padinya dengan pestisida. Sebagian lagi sedang memeriksa kondisi tanaman padinya. Ketiga blok ini merupakan salah satu area produksi padi.

Kondisi tanaman padi di ketiga blok ini bervariasi dari yang bunting, keluar malai  hingga menguning menjelang panen. Pestisida tentu bukan barang baru bagi petani di Balongan Indramayu. Saban musim mereka menggunakannya untuk mengantisipasi atau mengurangi serangan hama penyakit. “Supaya lebih “adem atine, jadi tenang kita” demikian ujar Dartim (46 tahun), petani di blok kalibuntu. Bagi Dartim dan petani lainnya menyemprotkan pestisida pada tanaman padinya seolah telah menjadi kewajiban. Tak peduli apakah ada atau tidak hama penyakit menyerang.

Dengan melakukan penyemprotan petani merasa lebih aman karena ada perlindungan. “Kitanya lebih percaya diri, mas” tambah Dartim. Pestisida kemudian menjadi satu-satunya tambatan para petani ditengah absennya dukungan informasi dan pengetahuan dari pemerintah atau cerdik pandai dalam menghadapi serangan hama penyakit.

Banjir pestisida

Walaupun telah menjadi rutinitas keseharian, tahun ini dirasa berbeda. Tarsuman (51 tahun), petani di blok
Ciwatu, mengungkapkan musim ini penggunaan pestisida meningkat. “Musim ini kita banyak beli obat” ujarnya.

Pernyataan Tarsuman benar juga, musim-musim yang lalu ketika penulis jalan di tempat ini petani yang menyemprot sedikit dan bau pestisida tidak pekat hingga ke jalanan.

Penggunaan pestisida musim ini tinggi dipicu karena serangan hama penyakit yang tinggi. Di Indramayu, khususnya hamparan balongan, wereng cokelat, sundep dan kresek dominan menyerang. Serangan ini merupakan terbesar setelah tiga tahun lalu.

“Sekarang itu kayak tiga tahun lalu, banyak penyakitnya” tutur Tarsuman. Tiga tahun lalu sawahnya juga terserang wereng. Kini lahannya yang hanya 0,7 hektare diserang sundep. Kekhawatiran jelas terpancar diwajahnya. Maklum saja lahan itulah satu-satunya tumpuan keluarga.

Untuk mengendalikan sundep ia mengaku melakukan penyemprotan setiap minggu sekali. Sejak usia tanaman 15 hari, Tarsuman sudah melakukan penyemprotan dengan frekuensi tersebut. Padahal pada musim biasa maksimum ia menyemprot paling banyak dua kali perbulan.

Lain lagi dengan Udin (42 tahun), petani di blok pekandangan, sawahnya seluas 2800 meter persegi sebagian besar sawahnya terserang wereng.  Untuk mengurangi serangan wereng ia melakukan penyemprotan setiap lima (5) hari sekali. Jumlah yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan biasanya. Dahulu ia paling sebulan sekali menyemprotnya, Itupun tergantung tingkat serangannya.

Adanya serangan hama penyakit ini mendorong petani menggandakan penggunaan pestisida. Tarsuman dan Udin mengaku menggunakan 3 jenis insektisida sekaligus. Sementara Dartim memakai 2 jenis insektisida. Bahkan menurut mereka ada petani yang mengoplos insektisida hingga 5 jenis sekaligus.

Jika dirata-rata frekuensi penyemprotan para petani tersebut 10 sampai dengan 12 kali diluar masa pembenihan. Dengan jumlah sebanyak itu, para petani itu tak ubahnya sedang menggenangi sawahnya dengan pestisida hingga meluap banjir. Pestisida sebanyak itu, tentu saja tak hanya akan membunuh hama-Jika pun ada hama yang terbunuh- namun juga para pemangsa/musuh alami yang mati. Di batang-batang padi milik pak Udin, tak satupun ditemukan laba-laba yang merupakan musuh alami wereng.

Para petani itu mengaku sengaja mengoplos aneka pestisida itu supaya lebih manjur. “Kalo dicampur lebih kuat, penyakitnya pada mati” ungkap Dartim. Sementara Udin mengatakan alasan mencampur karena dikhawatirkan kalo yang satu jenis tidak mempan, masih ada yang lainnya.

Praktek mengoplos pestisida ini telah menjadi keumuman petani. Semua petani di Indramayu melakukan hal yang sama. Mengenai bahaya pencampuran ini, para petani tak peduli. Jangankan bahayanya terhadap lingkungan, pada kesehatan dirinya sendiri pun tak dihiraukan. Pencampuran dilakukan dengan tangan langsung dan terbuka tanpa sarung tangan. Pada saat penyemprotan sama sekali tak menggunakan masker. Bahkan selama penyemprotan mereka bebas merokok atau makan.

Praktek ini dilakukan karena para petani ini mengaku tak mengetahui atau mendapatkan informasi tentang ini. Para petani mengaku tak penyuluh pernah memberikan informasi soal ini. Alih-alih memberikan alternatif pemecahan masalah hama penyakit dan informasi tentang pestisida, para petugas justru sering menawarkan jenis pestisida tertentu yang menjadi rekanannya.

Peningkatan penggunaan pestisida tentu saja membuat pengeluaran semakin banyak. Hal ini juga dikeluhkan Tarsuman, menurutnya biaya pembelian pestisida ini jauh lebih banyak dari biaya lain dan meningkat dari musim sebelumnya. Untuk menyediakan kebutuhan pestisida bagi sawahnya yang hanya 1400 meter persegi, ia harus mengeluarkan biaya ekstra.

Dalam satu kali penyemprotan tarsuman menggunakan empat jenis. Setiap jenis harganya bervariasi dari yang termurah 65 ribu sampai yang termahal 135 ribu per botol sedang. Untuk musim kali ini Trasuman mengaku menggunakan yang lebih malah dari biasanya yaitu 75 ribu perbotol.

Untuk satu botol ukuran 150 ml dapat dipakai hingga 4 kali penyemprotan. Jika penyemprotan 12 kali maka dibutuhkan 3 botol pestisida per jenis. Dengan harga rata-rata pestisida yang digunakan adalah 75 ribu, maka kebutuhan total biaya untuk membeli pestisida sebesar Rp. 900 ribu rupiah. Angka ini jauh lebih tinggi dari biasanya yang hanya sekitar 200-400 ribu.

Leave a Reply

COMMENTS