Juli 2012, 14 bulan lalu, perajin, pedagang, konsumen, anggota DPR, kementerian terkait dan publik serta media masa ramai membincangkan soal kedelai. Tepatnya kenaikan harga kedelai yang dirasakan perajian tahu tempe hingga konsumen. Kenaikan harga terjadi hingga 7.500/kg dari harga awal sekitar 5.000an/kg. Alasan kenaikan harga itu karena bencana kekeringan di negara-negara produsen kedelai seperti amerika, eropa dan amerika latin. Indonesia mengimpor kedelai hingga 1,5 juta ton dengan nilai mencapai 5,9 triliun.

Bulan ini, Agustus 2013, kembali perajin, pedagang, konsumen, anggota DPR, kementerian terkait dan publik serta media masa ramai membincangkan soal kedelai. Dan masih sama, soal kenaikan harga. Dari pantauan harga di pasar-pasar terjadi kenaikan dari kisaran 7.000/kg menjadi 9.000/kg. Hal ini diikuti kenaikan harga tempe yang emncapai 10-25%. Alasan kenaikan harga ini konon katanya karena melemahnya posisi rupiah terhadap dolar amerika yang mencapai 11.00 lebih per dolarnya. Hingga Agustus ini sekurangnya impor kedelai mencapai 1,6 juta ton.

Kejadian yang berulang selama dua tahun ini makin jelas menunjukan kegagalan pemerintah. Kegagalan dalam hal pencapaian target swasembada dan pengendalian harga. Tahun 2014 pemerintah menargetkan produksi mencapai 2,7 juta ton. Sementara tahun 2012 sebesar 1 juta ton dan tahun 2013 sebesar 1,5 juta ton.

Kedelai merupakan salah satu komoditas yang diperdagangkan di bursa komoditas internasional. Logam, minyak mentah, gandum, jagung dan kedelai merupakan komoditas yang paling disukai dan menjadi target yang disukai investor/pedagang. Pada umumnya, transaksi pengadaan saat ini dilakukan beberapa bulan sebelumnya. Jika mengikut keumuman ini maka harga kedelai yang beredar saat ini masih dalam range harga beberapa bulan lalu. Itu artinya pelemahan nilai tukar rupiah bisa jadi tidak ada korelasinya dengan harga kedelai yang dibeli beberapa bulan lalu.

Kejadian tahun lalu patut menjadi pelajaran. Indikasi kuat adanya kartelisasi kedelai sangat kuat tahun lalu. Dan tidak mungkin tahun ini juga. Hal ini dimungkinkan mengingat kuota impor kedelai terbesar hanya dikuasai oleh enam perusahaan saja. Perusahaan-perusahaan ini lah sejatinya penguasa pasar, penentu harga.

Membiarkan spekulan menguasai pasar sama dengan membiarkan makin banyak orang yang bergerak pada situasi kelaparan dan kemiskinan. Penduduk indonesia, sebagai negara berkembang, menghabiskan 80% pendapatannya untuk belanja pangan. Guncangan harga pangan tentu akan langsung mempengaruhi akses dan konsumsi pangan penduduk.

Fenomena kedelai memberikan bukti pemerintah tak serius mengurus pangan dengan dengan menyerahkannya pada pasar. Pemerintah menjerumuskan diri masuk dalam jerat pedagang dan perdagangan pangan yang dilakukan perusahaan transnasional dan negera maju. Pada level ini, Negara sudah dikalahkan pasar. Kedaulatan atas pangan tidak lagi dimiliki.

Leave a Reply

COMMENTS