Tak ada yang menyangkal bahwa Indonesia merupakan surga sumberdaya hayati dunia. Selain karena terletak di sekitar garis khatulistiwa menyebabkan Indonesia selalu mendapat sinar matahari sepanjang tahun juga karena curah hujan yang relatif tinggi. Keadaan iklim ini amat menunjang pertumbuhan dan budidaya tanaman. Berbagai jenis tanaman buah-buahan dan tanaman lainnya dapat tumbuh subur.

Hampir semua wilayah Indonesia memiliki jenis buah khas dan dapat ditumbuhi aneka jenis buah. Tak hanya cocok sebagai tempat budidaya. Namun juga menghasilkan jenis buah lokal dan memberikan sumbangan pada keragaman jenis buah dunia. Menurut catatan setidaknya ada 10 jenis buah eksotis yang asli Indonesia. Buah-buah tersebut adalah pisang, duku, belimbing, rambutan, kedondong, manggis, jambu air, durian, cempedak, dan salak.

Produksi

Kondisi seperti ini memungkinkan produksi buah di Indonesia cukup baik. Hal ini terlihat dari data produksi buah-buahan antara tahun 2001 sampai dengan 2009. Pada tahun 2001 produksi buah-buahan Indonesia mencapai 9.5 juta ton dan terus meningkat menjadi 18 juta ton pada tahun 2009. Sementara untuk periode 2007-2011, jika dirata-rata pertumbuhan produksi sebesar 19 persen.

Namun sayang, peningkatan produksi terhenti. Pada tahun 2010, produksi buah nasional  turun menjadi 15 juta ton. Adapun tahun 2011 produksi kembali naik menjadi 18 juta ton. Kenaikan ini ternyata tak terjadi ditahunberikutnya. Tahun 2012, produksi cenderung konstan diangka 18 juta ton. Bahkan jika dilihat per jenis buah, periode  tahun 2011-2012 sekurangnya 10 buah yang mengalami pertumbuhan negatif. Buah-buah tersebut adalah Alpukat, belimbing, durian, jeruk siam, mangga, nenas, pepaya, salak, melon dan semangka.

Peningkatan produksi, mendorong peningkatan volume ekspor. Jika tahun 2001 volume ekspor sebanyak 188,294 ton maka pada tahun 2008 naik menjadi 443,805 ton. Pun demikian dengan nilai ekspornya naik 104 juta USD menjadi 302 juta USD pada tahun 2008. Sementara untuk tahun 2009-2010 kinerja impor mengalami penurunan sebagai akibat dari menurunnya produksi. Pada tahun 2009 volume impor hanya sebesar 224,332 ton dengan nilai sebesar 164 juta USD. Tahun 2010 volume impornya kembali turun menjadi sebesar 196,341 ton dan nilai ekspor 173 juta USD. Adapun tahun 2011, produksi buah kembali meningkat walaupun tidak lebih tinggi dari tahun 2008. Volume impor pada tahun ini sebanyak 223,011 ton dengan nilai 241 juta USD.

Impor

Produksi buah-buahan yang terjadi cenderung konstant, padahal permintaan terus meningkat. pertumbuhan penduduk yang rata-rata 1,3 persen pertahun memunculkan peningkatan permintaan atau konsumsi buah. Hal ini tercermin dari peningkatan impor yang terjadi. Periode 2007-2011, rata-rata pertumbuhan impor mencapai 14 persen. Volume impor meningkat setiap tahunnya. Jika pada tahun 2007 volume impor 503,125 ton pada tahun 2011 impor meningkat tajam menjadi 832,080 ton. Sementara tahun 2012, turun menjadi 753,238 ton.

Peningkatan volume impor diikuti peningkatan nilainya. Jika dibandingkan dari tahun 2007, maka nilai impor tahun 2012 telah menjadi dua kalinya. Tahun 2007, nilai impor buah nasional mencapai 449 juta USD. Jumlah ini meningkat menjadi 856 juta USD tahun 2011, lalu menurun di tahun 2012 menjadi 816 juta USD.

Impor buah-buahan jika dilihat berdasarkan negara lebih banyak didominasi oleh negara Asia. Secara khusus china menjadi juara pada impor produk hortikultura, khususnya buah. Meningkatnya impor produk hortikultura merupakan konsekuensi dari adanya Cina Framework Agreement on Comprehensive Economic Co‐operation between The

Association of Southeast Asian Nations and The People’s Republic of China (ACFTA) telah ditandatangani pada tanggal 4 November 2004 di Phnom Penh, Kamboja oleh para Kepala Negara ASEAN dan CIna. Fase awal dari kesepakatan ini dikenal dengan Program Panen Awal (Early Harvest Program/EHP) yang mulai dilaksanakan sejak 1 Januari 2004 yang berisi pemotongan tarif bagi produk‐produk sektor pertanian negara‐negara ASEAN yang masuk ke pasar China.

Bagi China, perjanjian dagang ini didorong oleh tujuan komersil, ekonomi‐politik dan strategis. Perjanjian ini memberikan China lebih banyak kekuatan untuk menandingi pengaruh USA di kawasan ASEAN. Negara-negara asia tenggara kaya akan sumberdaya alam sebagai pendukung kebutuhan industri China yang kian berkembang. Pada sisi lain, negara-negara tersebut merupakan pasar yang besar bagi ekspor produk-produk China. Secara khusus kerjasama Cina dan Indonesia ini diarahkan untuk memperkuat dan meningkatkan kerjasama perdagangan, liberalisasi perdagangan barang dan jasa melalui pengurangan atau penghapusan tariff, mengembangkan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan, integrasi ekonomi yang lebih efektif.

Namun sayang tujuan itu tak sepenuhnya tercapai terutama bagi Indonesia. Pada kenyataannya Indonesia hanya jadi pasar berbagai produk Cina. Neraca perdagangan Indonesia cendrung negatif jika dibandingkan dengan Cina. Khusus untuk perdagangan produk pertanian, hortikultura, data BPS tahun 2012 menunjukkan total impor produk  sebesar 1,2 juta ton. Dari jumlah itu hampir setengahnya atau 569,037 ton (47%) berasal dari cina. Khusus untuk produk buah, dari total impor buah 753, 238 ton lebih dari setengahnya 490,883 ton (55,4%) berasal dari Cina.

Jika melihat peningkatan impor buah, potensi pasar dalam negeri begitu luar biasa. padahal jumlah permintaan itu belum mencerminkan kebutuhan yang sesungguhnya jika berdasarkan standar konsumsi. Menurut standar konsumsi buah yang baik sebanyak 75 kg/kapita/tahun. Sementara rata-rata konsumsi buah nasional baru mencapai 35,8 kg/kapita/tahun. Dengan fakta seperti itu berarti ada 93,6% penduduk Indonesia kualitas konsumsi buahnya masih kurang baik. Bagi negera pengekspor fakta diatas tentu saja menjadi ladang/pasar yang luar biasa besar. Tidaklah mengherankan jika sebisa mungkin terus menekan negeri ini dengan berbagai traktat agar produk buah miliknya bisa masuk di indonesia.

Perjanjian palsu

Besarnya potensi buah nasional tidaklah mengherankan jika melihat melimpahnya sumberdaya alam dan dukungan iklim tropis yang kondusif. Sebenarnya, Indonesia bisa swasembada produk hortikultura, khususnya buah-buahan bahkan menjadi negara pengekspor. Pengoptimalan produk buah nasional akan menguntungkan negeri ini. tak hanya membaiknya kualitas gizi dan derajat kesehatan masyarakat namun juga menghasilkan devisa bagi negara.

Namun apa lacur, potensi besar itu hanya potensi belaka karena optimalisasinya tidak pernah dilakukan. Alih-alih menjadi pengekspor, laju impor justru terus meningkat. Bahkan kini indonesia menjadi negara pengimpor. Tak hanya memunculkan sebuah paradoks, mengingat besarnya potensi yang dimiliki, namun juga membebani perekonomian nasional. Impor yang tinggi tak hanya menguras devias, namun juga mengambil kesempatan kerja dan pendapatan yang semestinya diterima petani dalam negeri.

Optimalisasi potensi akan mendorong produksi meningkat. Peningkatan produksi bisa menjadi pengungkit kesejahteraan petani. Maklum saja 35,5% penduduk indonesia bekerja di sektor pertanian. Kondisi petani saat ini tidak mengalami peningkatan pendapatan secara signifikan, tetap bergelut dengan kemiskinan dan rawan pangan. Hingga akhir 2012, angka kemiskinan hanya turun 0,3% menjadi 11,66% atau 29 juta jiwa. Padahal target penurunan kemiskinan hingga 8%. Dari jumlah itu sebanyak 18 juta jiwa atau 64% berada di pedesaan yang mayoritas berprofesi sebagai petani gurem dan nelayan tradisional.

Oleh karena itu, tantangan yang paling mendesak untuk dilakukan indonesia adalah bagaimana mengendalikan laju impor yang terus meningkat. Selain memperbaiki model pembangunan pertanian di dalam negeri dengan menempatkan petani sebagai subyek yang diberikan akses ke sumber-sumber produksi (lahan, bibit, pupuk, dll) dan dilindungi hak-hak dasarnya, serta jaminan pasar perlu juga meninjau ulang traktat atau pola-pola serta kebijakan dalam perdagangan internasional.

Kerjasama perdagangan baik yang multilateral maupun bilateral secara nyata membawa dampak yang serius bagi kehidupan petani. Produk petani dalam negeri kalah bersaing dengan produk luar karena adanya perjanjian non tarif. Bea masuk produk negara lain diturunkan bahkan dibebaskan sehingga bisa masuk hingga ke lokasi petani perodusen. Dalam perjanjian dengan Cina, pemerintah Indonesia bahkan membebaskan bea masuk hinga nol persen sebagai bentuk komitmen pada kesepakatan perdagangan bebas. Pada sisi lain petani tidak diberikan peningkatan kemampuan menciptakan produk yang mampu bersaing secara kualitas degan produk luar negeri. Selain itu jaminan kepastian harga dan fasilitasi akses pasar juga sangat lemah diterima petani. Makin banyak produk impor masuk, produk lokal makin tertekan. Pada sisi lain permintaan akan buah impor akan meningkat karena harganya yang lebih murah.

Leave a Reply

COMMENTS