Ramainya pemberitaan penemuan penyakit tanaman cabai dari Cina yang terbawa benih dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan fakta bahwa Indonesia rentan terhadap masuknya penyakit baru lewat impor benih. Kedepan tantangan ini semakin berat seiring dengan terus belangsungnya impor benih baik melalui program pemerintah maupun perdagangan umum.

Sebenarnya keberadaan penyakit baru tak hanya itu, menurut catatan Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman IPB, dari 1994 sampai dengan saat ini sekurangnya teridentifikiasi sekurangnya 12 jenis organisme pengganggu tanaman baru atau dikenal  sebagai organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1, yaitu OPT yang belum terdapat di dalam negeri.

“Munculnya penyakit penyakit baru yang ditemukan tim klinik tanaman selama ini karena terbawa oleh benih. Benih-benih ini merupakan benih impor” terang Dr Widodo, Kepala Klinik Tanaman Departemen Proteksi Tanaman IPB.

Menurut Widodo, benih yang membawa bibit penyakit ketika ditanam akan menular ke tanaman yang lain melalui  aliran air,  percikan air, angin, serangga, serangga, vektor, alat-alat pertanian maupun perdagangan produk tersebut. Hal ini sangat berbahaya karena seringkali ketika muncul penyakit baru kita tidak memiliki strategi penanganan yang tepat dan cepat.

Sementara itu, Dr. Suryo Wiyono, Ketua Departemen Proteksi Tanaman Faperta IPB mengatakan bahwa masuknya penyakit lewat benih sangat merugikan. Tidak hanya menurunkan produksi namun merugikan petani karena bisa meningkatkan biaya produksi, dan menurunkan pendapatan petani. Sekali hama atau penyakit masuk ke negara kita- sangat sulit sekali menghilangkannya.

“Kita perlu belajar dari kasus bawang merah. Tahun 1997 terjadi impor bawang merah konsumsi yang kemudian disalahgunakan menjadi benih. Bawang tersebut ternyata mengandung penyakit Fusarium oxyporum fsp. cepae panyakit ini pada waktu itu golongan A1. Sampai saat ini, penyakit tersebut terus menyerang dan menjadi musuh utama petani bawang” tambah Suryo.

“Maraknya penyakit baru yang masuk lewat benih harusnya menyadarkan kita untuk segera mewujudkan kedaulatan petani atas benih. Dengan mengutamakan benih dari petani maka kita bisa terhindar dari resiko ledakan (outbreak) hama penyakit. Selain itu, dengan berdaulat benih maka kita mendorong tumbuhnya ekonomi di tingkat petani”. Ujar Said Abdullah, Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP).

Said menuturkan, maraknya impor benih, terutama padi dari 2006 hingga hari ini terutama terkait program peningkatan produksi pangan nasional dapat menjadi ancaman serius bagi pencapaian kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani karena masuknya penyakit baru yang belum tentu disiapkan penanganannya. Dalam catatan KRKP, impor benih padi dilakukan oleh perusahaan swasta, BUMN dan sedikit oleh lembaga penelitian. Berdasarkan negara asal, Cina merupakan negara terbesar yang menjadi sumber impor benih. Disusul India sebagai eksportir terbesar kedua. Sementara Filipina, Amerika Serikat, Australia dan Pakistan dalam jumlah yang sedikit.

Impor benih padi khususnya, kedepan masih terus akan terjadi seiring dengan kebijakan peningkatan produksi pangan nasional. Oleh karenanya Hermanu Triwidodo, Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara (GPN), menyampaikan penting bagi pemerintah untuk memperkuat benih lokal dan kelembagaan perbenihan petani. GPN sendiri telah berkirim surat Bapak Joko Widodo untuk ikut serta menjaga keamanan pertanian Indonesia dari ancaman hama dan penyakit yang berasal dari luar negeri dengan menghentikan impor benih padi. Kekayaan dan keanekaragaman hayati padi serta rakitan varietas unggul oleh petani dan peneliti Indonesia tidak kalah produksinya dibanding yang berasal dari manca negara.

“Kita punya banyak jenis benih lokal yang sudah teruji dan terbukti tahan bahkan bebas penyakit, produksinya juga cukup baik. Jadi tak ada alasan untuk mengimpor benih dari luar apalagi resiko yang menyertainya cukup besar. Para petani perlu difasilitasi, diajak dan diyakinkan bahwa tak selamanya benih impor lebih baik dari benih lokal” Tegas Hermanu.

Banyaknya fakta lapangan yang menunjukan makin tingginya benih impor makin maraknya penyakit tanaman pangan baru harusnya membuat pemerintah berteguh hati untuk menguatkan keberadaan benih lokal.

“Selama ini data-data yang dihimpun dilapangan menunjukkan produktivitas padi hibrida impor tidak lebih tinggi dibandingkan varietas nasional semisal Mekongga, Ciherang. Bahkan lebih rentan terhadap serangan hama penyakit seperti wereng cokelat, blas dan kresek. Oleh karenanya, selain memperkuat karantina, pemerintah harus menghentikan kebijakan impor benih atas nama produktivitas tinggi karena sudah terbukti menambah permasalahan penyakit tanaman di Indonesia”. Pungkas Widodo

informasi lebih lanjut:
1.          Dr. Widodo, (081388469590) Klinik Tanaman, Departemen proteksi Tanaman IPB
2.          Dr. Suryo Wiyono, (0813 085 357 71) Ketua Departemen Proteksi Tanaman IPB
3.          Dr. Hermanu Triwidodo, (0818159965) Ketua Umum Gerakan Petani Nusantara (GPN)
4.     Said Abdullah, (081382151413), Koordinator nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP)

Catatan redaksi:
Keduabelas penyakit tersebut adalah:
1.          Turnip Mosaic Virus  (TuMV) pada tanaman Sawi tahun 2009,
2.          Bakteri busuk batang Clavibacter miciganensis pada tanaman tomat tahun 2007,
3.          Pantoea stewartii pada tanaman jagung tahun 2003,
4.          Fusarium oxysporum fsp. cepae pada tanaman bawang merah tahun 1997,
5.          Bean Common Mosaic Virus  (BCMV)pada tanaman kacang panjang tahun 2009,
6.          Nematoda sista kentang/globodera sp pada tanaman kentang tahun 2003,
7.          Kutu putih pepaya/Paracocus marginatus pada tanaman pepaya tahun 2008,
8.          Lalat daun kentang dan tomat/Liriomyza sp pada tanaman kentang dan tomat tahun 1994,
9.          Papaya ringspot virus pada tanaman pepaya tahun 2013,
10.        Bacteria grain rot/Burkholderia glumae  pada tanaman padi  ditemukan 2014
11.         Nematoda daun putih/Aphelenchoides besseyi pada tanaman padi yang ditemukan tahun 2014.
12.         Bakteri Erwinia chrysanthemi pada kentang, tahun 2015

Leave a Reply

COMMENTS