Pangkep, Villagerspost.com – Suasana desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, tak banyak berubah sejak dua tahun lalu. Masyarakat masih mengandalkan hidupnya dari budidaya rumput laut dan mengelola tambak ikan, khususnya udang dan bandeng secara sederhana.

Yang sedikit berbeda, dalam hal budidaya rumput laut, mereka kini mampu untuk melakukan penanaman hampir di sepanjang musim dan juga menerapkan teknik budidaya rumput laut serta pengolahan yang lebih baik. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan kelompok budidaya rumput laut “Kalaroang” yang anggotanya kebanyakan adalah perempuan.

Syarifah, sang ketua kelompok bercerita, selama ini umumnya petani rumput laut di Pangkep, bertanam rumput laut pada bulan Maret hingga Oktober. Pada bulan-bulan tersebut, biasanya kondisi laut dalam keadaan tenang dan hanya sedikit berombak sehingga pertumbuhan rumput laut cukup baik dan tidak ada risiko rumput laut hilang akibat cuaca buruk.

Namun, setelah ada program sekolah lapang yang merupakan bagian dari program “Beyond Availabilty”, yaitu program memperkuat ketahanan pangan lewat pemberdayaan perempuan di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Pangkep dan Takalar, kelompok Kalaroang mulai belajar bertanam rumput laut di sepanjang musim.

“Kemarin kami sempat kena ombak besar sehingga rumput laut yang hampir siap panen hilang disapu ombak, tetapi kami coba tanam lagi, dan ini sebentar lagi akan panen,” kata Syarifah, kepada Villagerspost.com yang menemuinya, di akhir bulan Desember lalu.

Program “Beyond Availability” ini sendiri merupakan program yang dihelat Oxfam bekerjasama dengan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, Katalis dan Yayasan Peduli Nusantara (YPN). Lead Project Program Beyond Availability Said Abdullah mengatakan, program ini dihelat untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat miskin di Takalar dan Pangkep dengan cara meningkatkan perekonomian mereka, akses atas pangan, dan peningkatan kemampuan pengolahan pangan.

“Goal besar program ini adalah peningkatan ketahanan pangan masyarakat yang dicirikan dengan peningkatan komitmen pemerintah daerah dalam hal ini, alokasi budgetnya dan kemudian kemampuan ekologi meningkat dan pola hidup sehat masyarakat terwujud. Diharapkan, dalam waktu panjang akan terlihat hasilnya,” katanya.

Karena itu, program ini tak hanya terfokus pada peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat, namun juga berupaya mengadvokasi pemerintah daerah dari level desa hingga kabupaten agar meningkatkan alokasi anggaran ketahanan pangan, dan juga meningkatkan kesadaran pola hidup sehat bagi masyarakat. Untuk pola hidup sehat, program ini melakukan pendidikan pola hidup sehat kepada anak-anak sekolah dasar, khususnya di Sekolah Dasar Negeri 21, Jennae, Pangkep semisal, program cuci tangan pakai sabun.

Kembali ke kelompok Kalaroang, melalui program ini, mereka tak hanya belajar bertanam sepanjang musim. Para petani rumput laut juga belajar metode bertanam yang baik sehingga bisa meningkatkan hasil panen secara maksimal. “Kami dulu memang asal bertanam saja, namun hasil panennya kurang maksimal,” kata Syarifah.

Pada mulanya, para petani rumput laut di Pitusunggu memang tak banyak memahami bahwa pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi beberapa faktor seperti kadar garam pada air laut, suhu, kedalaman tanam, hingga jarak tanam dari bibir pantai. Semua masih dilakukan berdasarkan pengetahuan yang mereka dapat secara turun temurun, sehingga hasilnya kurang maksimal.

“Kadang-kadang sudah tanam, tahu-tahu rumput lautnya memutih (tanda rumput laut mati atau tak bisa bertumbuh), itu ternyata karena kadar garam terlalu tinggi atau terlalu kurang,” kata Syarifah.

Alhasil, karena hasil kurang maksimal, pendapatan pun ikut-ikutan tak maksimal. “Rata-rata satu musim tanam (sekitar 3 bulan-red) hanya dapat Rp700 ribu sampai Rp1 juta per orang di kelompok,” kata Syarifah.

Toh, penghasilan itu sudah cukup lumayan untuk masa itu. Sedikit menengok ke belakang, sebelum masuknya program “Peningkatan Ketahanan Pangan”, di desa Pitunsunggu pernah mendapatkan program “Restoring Coastal Livelihood” atau RCL yang juga dihelat oleh Oxfam. Program itu sendiri lebih menekankan pada upaya memulihkan kembali penghidupan masyarakat pesisir pantai Sulawesi Selatan, yang mengalami kerusakan.

Di Pangkep sendiri, seturut cerita Syarifah, pesisir pantai umumnya mengalami kerusakan akibat “demam” udang windu yang terjadi pada 20 tahunan silam. Ketika itu, jajaran tanaman mangrove yang menjadi pelindung kawasan pantai, banyak yang habis ditebang karena lahan pantai diubah menjadi pertambakan udang windu.

Akibatnya, ketika harga udang windu jatuh dan pertambakan ditinggalkan, kondisi pantai mengalami kerusakan hebat akibat abrasi. Masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan pun kesulitan mencari ikan karena mangrove yang seharusnya menjadi tempat perlindungan pantai dari abrasi sekaligus tempat berpijahnya ikan, udang, kepiting dan hewan laut lainnya yang bisa menjadi mata pencaharian penduduk, hancur.

Lewat program RCL, Oxfam mencoba mengembalikan penghidupan masyarakat pesisir, khususnya di Pangkep yang hancur. Salah satunya lewat upaya merehabilitasi mangrove dan mengembangkan penghidupan masyarakat yang berbasis budidaya yang ramah lingkungan, salah satunya adalah lewat budidaya rumput laut seperti yang dilakukan kelompok Kalaroang.

Lewat program itu pula, masyarakat belajar melakukan budidaya rumput laut yang baik. Hasilnya memang cukup lumayan, produksi panen rumput laut kering yang dihasilkan petani kisaran paling rendah mencapai 20 kg/panen. Rumput laut kering ini dijual seharga rata-rata Rp10.500/kg kepada pedagang pengumpul. Hasil penjualan itu kemudian, digunakan untuk keperluan rumah tangga termasuk penyediaan pangan dan non pangan dalam sebulan.

Nah, lewat program peningkatan ketahanan pangan ini, kemampuan masyarakat untuk meningkatkan penghasilan lewat peningkatan produksi panen, diversifikasi produk untuk memberikan nilai tambah dilakukan. Tujuannya, agar pendapatan masyarakat semakin baik dan mampu menyediakan kebutuhan pangan yang lebih baik lagi.

Karena itulah, kata Syarifah, dari segi budidaya, kemampuan masyarakat lebih ditingkatkan lagi untuk melakukan budidaya rumput laut dengan lebih maksimal. Lewat sekolah lapang, selain belajar meningkatkan hasil panen lewat penanaman sepanjang musim, para petani juga diajarkan untuk meningkatkan hasil panen lewat cara budidaya yang optimal.

“Kami belajar mengukur kadar garam, sebelum bertanam kami memeriksa dulu lokasi tanam yang baik yaitu yang kadar garamnya sekitar 28-30 ppt (part per thousand-red),” kata Syarifah.

Dengan kadar garam yang tepat, indukan rumput laut bisa berbiak dengan lebih baik dan lebih rimbun. Mereka juga belajar mengukur suhu air laut, dimana kini mereka paham, suhu terbaik untuk menanam rumput laut adalah antara 27 derajat Celcius-30 derajat Celcius.

Selain itu, jika dahulu masyarakat hanya belajar soal jarak tanam ideal dari bibir pantai yaitu antara 150-200 meter dari tepi pantai, yaitu pada bagian laut yang biru dan tak berlumpur, nelayan juga belajar cara membentang bibit rumput laut yang baik.

Mereka mengatur panjang dan jumlah bentangan dalam satu blok, jarak antar bentangan, hingga kedalaman dimana rumput laut ditanam. Kelompok Kalaroang biasanya membentang antara 150-200 bentangan bibit rumput laut dengan panjang satu bentangan sekitar 25 meter.

“Untuk jarak bentangan kita atur antar bentangan dalam jarak sekitar 30 centimeter, kedalaman antara 15-30 centimeter dari permukaan laut,” kata Syarifah.

Dengan mempelajari cara bertanam rumput laut yang baik ini, kata Syarifah, hasil panen rumput laut menjadi semakin maksimal. “Dulu satu bentangan paling banyak menghasilkan 7 kilogram, sekarang bisa antara 25-30 kilogram,” katanya.

Penghasilan masyarakat pun terdongkrak. Dengan menanam 150-200 bentangan, dalam satu musim tanam selama 35 hari, mereka bisa menghasilkan 5000-6000 kilogram rumput laut. Sebagian dijual sebagai rumput laut kering, sebagian lain dikembangkan sebagai bibit dan sisanya diolah menjadi produk turunan sehingga memberikan nilai tambah.

Sumber : villagerspost

Leave a Reply

COMMENTS