VIVA.co.id – Kementerian Pertanian pekan lalu mengkhawatirkan harga cabai terjun bebas di tingkat petani. Hal itu disebabkan, perhitungan stok yang melimpah dari program gerakan menanam cabai dan datangnya panen.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan bahwa peluang penurunan harga di tingkat petani itu ada. Namun, hal itu masih akan terkendali bila pemerintah mampu kontrol beberapa hal.

Pertama, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan tidak akan ada impor masuk secara legal atau ilegal.

“Sangat mungkin kalau ada impor penurunannya bisa di atas 20 persen, hal itu pernah terjadi pada Beras, Tomat dan Kentang ketika Impor dibiarkan masuk,” ucap Said kepada VIVA.co.id, pada Jumat, 31 Maret 2017.

Kemudian yang kedua, Kementerian harus koordinasi mengelola isu terkait rantai pasok, agar tidak ada spekulan yang memainkan isu impor dibutuhkan. Mengingat, beberapa bulan ke depan menjelang Ramadan dan permintaan terhadap komoditas pangan, termasuk cabai akan meningkat.

“Jangan sampai ada sentimen orang yang memainkan seolah-olah saat permintaan naik, lalu harus ada penambahan produk dari impor. Nanti psikologis pasar akan memengaruhi harga di tingkat petani,” ujarnya.

Selebihnya, menurut Said, Kementan dan Kemendag harus bijak dalam menghitung penurunan harga di tingkat petani dan konsumen, karena tidak bisa salah satunya dikorbankan untuk kepentingan sepihak.

Menurut dia, selama ini disparitas penurunan harga di tingkat konsumen dan di tingkat petani masih belum berimbang. Petani cenderung lebih merugi karena harga turun lebih dalam, dibanding harga yang beredar di pasaran (tingkat konsumen).

“Kalau dari Kemendag mungkin akan senang turunnya harga di pasaran, karena bisa untungkan konsumen. Tapi, Kementan tidak bisa serta-merta berdiri pada sisi itu. Kementan harus mengkroscek di level petani turun seberapa jauh,” ungkapnya.

Saat ini sendiri, harga cabai di tingkat petani memang menunjukkan penurunan. Misalnya saja, cabai rawit di Blitar dari harga Rp70-80 ribu per kg menjadi sekitar Rp50 ribu per kg.

“Penurunannya sementara ini tidak sampai setengahnya. Dan harganya masih di atas harga normal. Itu memang perlu dijaga. Pemerintah harus pastikan tidak lebih rendah dari harga acuan Kemendag. Kalau bisa range-nya di sekitar Rp20-30 ribuan per kg, sehingga petani masih ada keuntungan,” ucapnya.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.63/2016 tentang Harga Acuan Pembelian di Petani dan Harga Acuan Penjualan di Konsumen, Harga Pokok Penjualan (HPP) cabai secara nasional Rp 17 ribu per kg, yang merupakan floor price cabai. (ase)

Oleh : Dusep Malik, Shintaloka Pradita Sicca

Sumber : viva.co.id

Leave a Reply

COMMENTS