Pangkep, Villagerspost.com – Mulanya, Syarifah, bersama kaum perempuan Desa Tamrupa, Kecamatan Ma’rang, Pangkep, Sulawesi Selatan, yang tergabung dalam Kelompok Tani Kalaroang, hanya mengandalkan penghidupan dari budidaya rumput laut. Berbagai teknik budidaya rumput laut yang baik sudah mereka pelajari melalui berbagai program bantuan yang masuk ke desa itu, terutama dari Oxfam.

Pelatihan seperti mengukur kadar garam air laut, menentukan musim tanam, mengatur kedalaman tanam dan membuat ikatan bibit rumput laut yang baik ini, memang sedikit banyak mampu meningkatkan penghasilan mereka. Namun, itu saja ternyata tak cukup, lantaran bagaimanapun tantangan pembudidaya rumput laut dalam menghadapi iklim yang berubah sangatlah berat.

Karena itu, lewat program “Beyond Availability” yang digelar Oxfam bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan dibantu Yayasan Unilever dan mitra lokal, Syarifah dan Kelompok Kalaroang kembali mengikuti berbagai pelatihan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Sejak 19 Desember 2016 Ibu Syarifah mengikuti pelatihan pengolahan rumput laut.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi dan pemasaran rumput laut (improving the quality of seaweed based food production and maketing). Awalnya kegiatan harian dari kelompok tani tersebut adalah menanam, merawat, memanen lalu menjual rumput laut tanpa diolah sama sekali. Namun setelah mengikuti pelatihan akhirnya mereka sudah memiliki produk sendiri berupa stik rumput laut dan sirup rumput laut.

kalaroang-sirup8

Syarifah mempraktikkan teknik menimbang rumput laut (dok. villagerspost.com/uppy supriyadi)

Ibu dari dua anak bernama Marwa Arman (8 tahun) dan Alfaiz Arman (6 tahun) ini pun langsung merasakan dampak positif dari pelatihan tersbut. “Salah satunya yang saya rasakan adalah kami mengerti untuk meningkatkan higienitas produk olahan rumput laut, saat ini dalam pengolahan mulai diperhatikan salah satunya dengan penggunaan sarung tangan untuk mencegah agar produk tidak kontaminan,” kata Syarifah yang juga Ketua kelompok Kalaroang ini, kepada Villagerspost.com.

Tentu saja, manfaat utama dari pelatihan ini adalah, meningkatkan nilai produk rumput laut dibandingkan hanya dijual dalam bentuk rumput laut kering yang paling bagus saat ini hanya dihargai Rp7000 per kilogram. Sementara dengan diolah menjadi stik rumput laut misalnya, dari 1 kilogram rumput laut bisa diolah menjadi beberapa kilogram stik yang harganya mencapai Rp60 ribu per kilogramnya.

Selain stik rumput laut, Syarifah dan kelompok Kalaroang juga mampu memproduksi sirup rumput laut dengan harga Rp10 ribu per botol. Sementara dari 1 kilogram rumput laut bisa diolah menjadi paling tidak 10 botol sirup.

Sejauh ini pihak desa sudah mulai mendukung kegiatan kelompok dengan memfasilitasi pengadaan alat produksi juga mengimbau kepada warga desa untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut. Dengan imbauan itu, diharapkan akan terbentuk banyak kelompok-kelompok baru yang akan berdampak pada kesejahteraan hidup masyarakat dengan meningkatnya pendapatan.

Untuk sementara, target pemasaran adalah warga sekitar desa juga pengguna sosial media seperti facebook. Pada bulan Januari lalu misalnya kelompok Kalaroang mendapat pesanan stik rumput laut sebanyak 2,5 kg dan 1,5 kg dengan keuntungan rata-rata yang diperoleh sekitar Rp126 ribu. Sedangkan pada bulan februari pesanan meningkat hingga 47,6% dengan jumlah pesanan diantaranya 1,5 kg, 2,5 kg, 2,5 kg, 6 kg dengan keuntungan rata-rata Rp388 ribu.

Syarifah mengatakan, agar produk bisa dipasarkan secara luas, kelompok Kalaroang sedang berusaha untuk mendapatkan izin pemasaran dari Dinas Kesehatan dan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia. “Untuk mendapatkan izin tersebut, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah memiliki rumah produksi oleh karena itu kelompok tengah berusaha untuk mewujudkannya,” kata Syarifah.

Seiring dengan terus meningkatnya permintaan pasar, kuantitas sumber daya manusia juga semakin bertambah. Jumlah anggota kelompok yang awalnya hanya 20 orang kini sudah meinigkat menjadi 80 orang anggota yang terbagi kedalam dua kelompok. “Saya berharap agar produksi kelompok terus meningkat dan bisa segera mendapatkan rumah produksi,” pungkas Syarifah.

Laporan: Suharjo, jurnalis warga dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan

Sumber : Villagerspost

Leave a Reply

COMMENTS