JAKARTA (HN) – Seberapa minatkah Anda menjadi petani? Pertanyaan ini yang dijadikan dasar penelitian Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP). Hasilnya, usai melakukan tanya jawab dengan 160 responden di empat kabupaten, sebanyak 70 persen menyatakan tidak berminat menjadi petani padi.

Ketika pertanyaan diubah, apakah berminat menjadi petani hortikultura, sebanyak 73 persen responden menyatakan tidak tertarik. Kondisi ini, jelas Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah, menjadi sikap yang dimiliki masyarakat berusia di bawah 35 tahun.

petani_1

Alasannya, hasil rangkuman dari penelitian tersebut, mengarah pada ketidakpastian pendapatan usaha dari sektor pertanian. Padahal, ungkap Said, pemerintah terus meningkatkan alokasi anggaran di sektor pertanian. Namun di sisi lain, Said melanjutkan, pemerintah belum menciptakan kondisi usaha tani yang menjanjikan.

“Persoalannya tidak cukup hanya berbagi pupuk dan benih. Tetap butuh dukungan kemudahan dan akses permodalan, terutama untuk kaum muda,” tutur Said kepada HARIAN NASIONAL di Jakarta, Selasa (25/4).

Di sektor usaha pertanian tanaman pangan, jelas Said, luas kepemilikan lahan dan pendapatan menjadi penyebab utama masyarakat tak berminat menjadi petani. Di sektor hortikultura, sambungnya, faktor utama yang memengaruhi yakni ketidakpastian pendapatan, termasuk kondisi ekonomi keluarga petani saat ini.

“Kerja sama nyata antar kementerian sangat diperlukan. Potensi usaha pertanian kita besar, cuma kepastian yang belum terjamin,” kata Said. Ia khawatir kondisi ini membuat Indonesia tak memiliki petani, mengingat pemerintah masih berkutat pada jumlah produksi, bukan pada kewirausahaan.

Menukil data sensus pertanian Badan Pusat Statistik (BPS), 61,8 persen petani didominasi masyarakat berusia lebih dari 45 tahun, sekadar 12 persen kurang dari 35 tahun.

“Kalau tidak ada perubahan kebijakan, jumlah petani akan kembali berkurang 15-20 persen pada sensus berikutnya,” kata Said.

Kondisi desa, Said menilai, menentukan regenerasi petani. Pada 2015, penelusuran Bank Dunia, migrasi penduduk desa ke kota di Indonesia mencapai 51,4 persen.

Direktur Pelayanan Sosial Dasar Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Hanibal Hamidi mengklaim selalu menaruh perhatian di sektor pertanian, salah satunya dengan memanfaatkan dana desa untuk pembangunan embung. Saat ini jumlah embung telah mencapai 686 unit. Namun, pihaknya belum mengkaji efektivitas pembangunan embung untuk peningkatan gairah usaha pertanian.

Duta Petani Muda 2016 Rici Solihin mengatakan, usaha pertanian besar akan risiko ketidakpastian. Alhasil, menurut Rici, diperlukan banyak inovasi dan diferensiasi produk pertanian disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Namun tetap saja, menarik kaum muda butuh keseriusan pemerintah,” tutur Rici.

Sumber : http://www.harnas.co/2017/04/26/petani-tergerus-minat

Reportase : Dedy Darmawan Nasution
Editor : Admin

Leave a Reply

COMMENTS