JAKARTA (HN) – Hama wereng batang coklat (WBC) kembali menyerang tanaman padi. Hasil pengamatan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) dan Institut Pertanian Bogor (IPB), hama WBC menyerang lebih dari 900 hektare (ha) sawah dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Koordinator Nasional KRKP Said Abdullah mengatakan, populasi dan serangan WBC kian meningkat empat pekan terakhir. Berbagai sentra produksi padi di Jawa dilaporkan terkena serangan mematikan. “Serangan yang mengganas ini tentu membahayakan produksi padi nasional,” kata Said kepada HARIAN NASIONAL, Jumat (16/7).

Serangan hama terbesar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah hingga 300 ribu ha dan di Desa Wiru, Semarang mencapai 150 ha. Wereng di Ngawi dan Madiun, Jawa Timur menyerang 100 ha sawah.

Said mengatakan, pengendalian hama terpadu (PHT) perlu dimassalkan kembali. PHT terbukti efektif mengendalikan ledakan wereng. Dia menilai, subsidi dan penyebaran benih padi hibrida impor secara luas perlu dilihat kembali. Benih tersebut tidak terbukti ilmiah mampu meningkatkan produksi dan tahan serangan hama penyakit.

Kesuksesan panen padi hibrida hanya didapatkan di areal terbatas. Sudah waktunya pemerintah mendorong penggunaan benih lokal yang lebih tahan dan menguntungkan petani,” ujar dia.

Ketua DPW Wahana Masyarakat Tani dan Nelayan Indonesia (WAMTI) Indramayu Wawan mengatakan, Indramayu mulai terjangkit wereng sejak dua pekan lalu. Kendati musim panas, masih sering turun hujan sehingga iklim cukup lembab. Kondisi ini memicu percepatan penetasan telur-telur wereng di sawah.

Dia mengatakan, luas baku lahan sawah di Indramayu mencapai 120 ha. Namun, untuk musim tanam kedua hanya sekitar 100 ha. Penurunan luas tanam diakibatkan pasokan air dari Waduk Jatigede yang sulit. “Selain kesulitan air juga ada wereng. Petugas pengendali hama harus bergerak cepat,” kata dia.

Petani asal Banyumas, Tri Yono mengaku, hama WBC mengakibatkan gagal panen (puso). Selain karena iklim tak menentu, pemakaian pestisida oleh sebagian petani belum tepat. Ia mendapati masih ada pestisida yang dilarang tapi beredar. Di sisi lain, dosis penggunaan pestisida kurang diperhatikan petani.

Total kerugian akibat serangan belum diketahui. Namun, pendapatan petani diperkirakan terganggu. Pendapatan petani tipis karena harga Gabah Kering Panen (GKP) dari Bulog hanya Rp 3.700 per kg.

Peneliti Hama sekaligus Dosen IPB Hermanu Triwidodo mengatakan, WBC memiliki tingkat serangan membahayakan dan mengakibatkan gagal panen hingga 100 persen.

Ancaman kegagalan panen bisa berimbas pengurangan stok beras nasional. Tahun 2010-2011, stok pangan terpengaruh akibat serangan WBC sehingga pemerintah impor beras hingga 2,7 juta ton. “Ini ancaman serius. Semua pihak harus lebih waspada,” kata dia.

WBC merupakan hama penting sejak tahun 1970-an. Ledakan wereng coklat terbesar tercatat tahun 1974-1975, 1986, 1998, dan 2010-2011. Tahun ini serangan besar diprediksi bisa kembali.

Reportase : Dedy Darmawan Nasution

Editor : Admin

 

One Response so far.

  1. Martua Suhunan Sianipar says:

    Tks infonya pa Dedi Nas. melanjut tulisan diatas Mhn bantuan info : ledakan wereng coklat tahun 1974-1975, 1986, 1998 dan tahun 2010-2011 di daerah mana saja dan berapa hektar luas serangannnya ya? saya butuh info ini untuk penulisan disertasi saya pa Dedi. Apa bila data tersebut diatas sudah ada mohon berkenan pa Dedi untuk mengirimkan ke email saya : sunandelisianipar@yahoo.com atau suhunan@unpad.ac.id. Tks ya Pa Dedi.

Leave a Reply

COMMENTS