584b996044828-warga-korban-gempa-aceh-mulai-kembali-beraktivitas_663_382

Jumlah kemiskinan di desa menurun

JAKARTA (HN) – Penurunan angka kemiskinan di perdesaan tidak menjadi jaminan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Angka kemiskinan justru turun karena migrasi petani sebagai mayoritas penduduk perdesaan ke kota besar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2016 hingga Maret 2017 angka kemiskinan perkotaan naik 188.190 orang dari 10,49 juta pada September menjadi 10,67 juta orang pada Maret tahun ini. Angka kemiskinan di perdesaan turun 181.290 orang dari 17,28 juta pada September tahun lalu menjadi 17,19 juta pada Maret tahun ini.

Penurunan angka kemiskinan di desa bukan berarti perbaikan sistem pertanian dan kesejahteraan petani,” ujar Kepala Departemen Organisasi, Pendidikan, dan Advokasi Aliansi Petani Indonesia (API) Nurhadi kepada HARIAN NASIONAL di Jakarta, Kamis (20/7).

Menurut dia, angka migrasi tinggi karena minim lapangan pekerjaan di desa. Lahan yang menjadi sumber pekerjaan tergerus permukiman dan industrialisasi berbasis teknologi. Saat ini kepemilikan lahan oleh petani sekitar 500 meter hingga 2.500 meter persegi.

Penguasaan lahan sudah bergeser bukan ke petani. Jadi, lapangan pekerjaan tidak banyak tersedia lagi. Anak muda juga tidak mau kembali ke desa menjadi petani,” kata dia.

Nurhadi mengatakan, petani selalu mencari cara untuk memenuhi kebutuhan dengan mencari lapangan pekerjaan lain. Biasanya, pekerjaan itu tidak terkait pertanian, seperti perdagangan hingga kuli bangunan.

Penghasilan tidak semata-mata dari pertanian. Mereka mencari pekerjaan lain di kota. Malah tidak jarang mereka menjadi kuli bangunan untuk kirim uangnya ke kampung,” ujar Nurhadi.

Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Said Abdullah mengatakan, tingkat kemiskinan bisa dinilai dari penghasilan yang dimiliki petani setiap bulan. Panen padi rata-rata per hektare sebesar 5,2 ton dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kilogram. Untuk saat ini rata-rata kepemilikan lahan sekitar 2.500 meter persegi dan menghasilkan panen 1,3 ton. Penghasilan petani sebesar Rp 4.810.000 per musim. Di sisi lain, biaya produksi mencapai Rp 1,5 juta per 2.500 meter persegi.

Rata-rata penghasilan setiap bulan cuma Rp 827.500. Setahun rata-rata hanya dua kali tanam atau delapan bulan. Empat bulan lainnya tidak memiliki penghasilan dari pertanian,” kata Said kepada HARIAN NASIONAL.

Ia mengatakan, penghasilan petani yang minim memicu perpindahan penduduk desa ke kota. Mereka mencari pekerjaan untuk menutup kebutuhan sehari-hari dalam setahun. Kota besar dianggap sebagai pemberi penghasilan lebih baik. Klaim penurunan angka kemiskinan dinilai tidak sesuai di lapangan.

Seharusnya sama dengan upah minimum rata-rata (UMR) agar tidak ada migrasi dari desa ke kota. Meski belum ada angka kuantitatif di lapangan, tapi bisa diketahui dari faktorial dan keadaan lapangan mengenai migrasi ini,” ujar dia.

Dampak Kebijakan Pertanian

Kepala Bidang Data Sosial Ekonomi, Pusat Data, dan Informasi Kementerian Pertanian(Pusdatin Kementan) Lutful Hakim menilai, penurunan angka kemiskinan di desa merupakan keberhasilan peningkatan produksi pertanian.

Selama ini beberapa program yang telah dilakukan terkait perbaikan jaringan irigasi 3 juta hektare, bantuan alat mesin pertanian 80 ribu unit per tahun, bantuan benih unggul, subsidi pupuk, perluasan areal tanam hingga pola tanam jajar legowo. “Capaian produksi pangan naik signifikan. Produksi padi 2014-2016 naik 8,3 juta ton gabah kering giling (GKG) atau 11,7 persen. Peningkatan produksi padi ini senilai Rp 38,2 triliun,” katanya.

Ia mengatakan, peran pemerintah juga menjangkau aspek keterampilan bertani. Pemberdayaan petani dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan hingga pengembangan kawasan rumah pangan lestari. Dari aspek lain, perlindungan harga juga dilakukan dengan kebijakan harga atas dan harga bawah.

Program Kementan fokus memperpendek rantai pasok tata niaga pangan, membangun Toko Tani Indonesia, hingga membentuk Satgas Pangan,” kata Lutful.

Di masa mendatang Kementan juga akan memermudah penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pemberian asuransi untuk padi dan sapi.

 Reportase : Elvi Robiatul Adawiyah

Editor : Admin

Sumber : Harnas.co (http://www.harnas.co/2017/07/20/petani-migrasi-ke-kota-besar)

Leave a Reply

COMMENTS