“Say It With Flowers”, begitu ungkapan orang Inggris untuk menggambarkan, betapa setangkai bunga bisa mengungkapkan suatu perasaan atau keadaan yang sulit diungkapkan. Nah, bagi ibu-ibu petani di Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bunga adalah peluang untuk melakukan pemberdayaan diri dan ekonomi keluarga.

Karena itu, sejak dua tahun silam, 13 orang perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Kelud, pun bergelut membudidayakan bunga hias demi memperbaiki perekonomian rumah tangga. Kartini (32), Ketua KWT Putri Kelud mengatakan, awalnya, seperti kaum ibu di Desa Sempu pada umumnya, para anggota KWT adalah para ibu yang bekerja sebagai buruh tani dan juga bertani di lahan sendiri.

“Penghasilan kami masih sangat kecil, paling banyak hanya 600 ribu rupiah sebulan,” ujarnya.

Kemudian, 13 orang perempuan yang awalnya berkumpul dalam kelompok senam ibu-ibu mulai berpikir untuk memberdayakan diri sekaligus ikut membantu memperbaiki perekonomian rumah tangga. Kebetulan, kata Kartini, di Desa Sempu juga ada kawasan wisata Kampoeng Anggrek yang menawarkan untuk membantu melakukan pendampingan terhadap kaum perempuan Desa Sempu untuk membudidaya bunga hias dan sekaligus membantu pemasaran.

“Biasanya tiap kita panen kita setor langsung ke sana. Nanti dari pihak Kampung Anggreknya ada margin berapa persen. Jadi lebih mudah dalam pemasaran. Lapak untuk KWT tersedia di sana,” ujar Kartini.

Dengan modal awal sebesar Rp20 juta bantuan dari Dinas Sosial, pada tahun 2016, KWT Putri Kelud pun kemudian mulai terjun dalam usaha budidaya bunga hias. Mereka mendirikan satu unit greenhouse di halaman rumah milik Kartini.

Ada berbagai jenis bunga yang sudah dikembangkan seperti celisia, dianthus, marigold dan begonia. “Tetapi untuk saat ini, kami mengembangkan begonia karena lebih banyak diminati, harganya pun lumayan bagus,” kata Kartini.

Dari satu greenhouse, KWT Putri Kelud bisa menghasilkan 180 rumpun bunga begonia yang satu rumpunnya dijual di dalam pot seharga Rp25 ribu. “Usaha ini lumayan lah untuk bisa membantu pendapatan keluarga,” kata Kartini.

Setidaknya, sambil tetap melakukan pekerjaan sebagai petani, KWT bisa mendapatkan penghasilan tambahan dari bisnis bunga. Memulai usaha ini, kata Kartini, mulanya juga sulit karena pada upaya pertama sempat gagal. “Bibitnya banyak yang mati kena busuk batang,” katanya.

Ketika itu, mereka belajar membudidaya bunga selvia. Namun kemudian pihak desa memberikan pendampingan melalui PPL yang mengajari mereka tata cara tanam, perawatan hingga pemasaran. Para perempuan ini juga dikirim untuk belajar budidaya bunga dari daerah lain.

“Untuk sejauh ini ada beberapa pelatihan yang kami ikuti, yaitu penanaman bunga di Malang, terus di Ngasem, kami belajar cara mengemas bunga supaya semakin menarik,” ujarnya.

“Kalau di sini (di desa-red), kami belajar cara menyemai yang baik dan benar, perawatan hingga penjualan bunga,” tambah Kartini.

Pada upaya kedua, para anggota KWT baru berhasil mengembangkan bibit hingga menjadi bunga yang indah dan laik jual. “Kami kembangkan dari biji sampai jadi benih dalam 2-3 bulan,” katanya.

Meski terhitung relatif mudah dibudidaya, tetap ada tantangan yang harus dihadapi kaum perempuan pembudidaya bunga ini. “Sebenarnya budidaya mudah karena di tempat kita airnya sudah lancar. Obat dan pupuk untuk tanaman sudah tersedia,” kata Kartini.

Hanya saja memang untuk perawatan harus telaten agar bunga berkembang baik dan bisa sesuai dengan spesifikasi yang diminta pasar. “Pemupukan harus telaten, kita menggunakan pupuk kompos, dan pupuk bokashi, pupuk kandang yang digiling halus. Jadi perawatannya hanya itu, pupuk tersebut ditambah air sama obat,” ujar Kartini.

Obat-obatan yang diberikan, kata dia, adalah obat daun dan obat untuk bunga. Hal ini penting untuk mencegah serangan hama khususnya belalang. Musuh lainnya adalah busuk batang yang membuat tanaman bunga gagal mekar dan layu sebelum berkembang.

“Bibit biasanya rentan kalau sudah mulai umur 1 bulan ke atas. Kalau masih kecil terkena jamur kemudian busuk batang. Terus kalau sudah besar diserang ulat dan belalang,” ujar Kartini.

Ke depan, kata Kartini, para anggota KWT akan mulai berusaha untuk menambah dua greenhouse lagi, agar usaha mereka benar-benar semakin ekonomis. Sehingga nantinya satu greenhouse hanya akan ditangani oleh 4-5 anggota. Selama ini ke-13 anggota menangani 1 greenhouse sehingga kurang efektif.

“Selama ini kami memang belum berani menambah jumlah produksi karena kami masih takut gagal,” ujar Kartini.

Dia mengatakan, jika ingin benar-benar ekonomis bahkan KWT harus memiliki 5 greenhouse di mana nantinya setiap greenhouse cukup ditangani 2 anggota atau maksimal tiga. “Hanya saja, anggota masih belum berani jalan sendiri,” ujarnya.

Dia sendiri tidak mengerti mengapa meski sudah menjalani usaha ini selama 2 tahun dan hasilnya cukup baik, namun para anggota belum berani mengembangkan usaha ini. “Kami memang kendalanya psikologis, takut gagal,” ujarnya.

Maklum, kata dia, untuk ukuran di desa harga benih bunga meski satunya cuma seharga Rp 3 ribu, sudah terhitung mahal. Belum lagi biaya obat-obatan dan pupuk. “Kalau satu modalnya hitungannya 3 ribu rupiah, tapi kalau satu greenhouse ada 180 bibit, kalau gagal terlalu banyak kerugiannya,” ujar Kartini.

Namun mulai tahun ini, dengan bantuan pihak Pemerintah Desa Sempu, KWT Putri Kelud, dalam waktu dekat akan memulai pelatihan budidaya bunga dan menambah jumlah greenhouse agar usaha mereka semakin bernilai ekonomis.

Kuncinya, kata Kartini, adalah pendampingan. “Tugas pendamping itu untuk memberikan pelatihan dan memastikan program berjalan karena kalau tidak ada pendampingan saya yakin ibu-ibu pasti merasa takut gagal dan mengalami risiko kerugian. Nah ibu- ibu kalau sudah rugi pasti nggak mau. Maunya untung terus. Dengan ada pendampingan kami optimis usaha ini akan berkembang baik,” ujar Kartini.

Selain mengembangkan usaha, para anggota KWT, kata Kartini, juga belajar untuk berperan aktif untuk berpartisipasi dalam pembangunan desa. Salah satunya dengan menghadiri rapat-rapat desa untuk menentukan program desa.

“Ketika musdes (musyawarah desa-red) ada selalu unsur perempuan. Pasti. Kami ikut menyumbang saran, ikut menentukan layak atau tidaknya suatu program dijalankan,” ujar Kartini.

Salah satunya, kata Kartini, para perempuan terlibat dalam memutuskan apakah pembentukan BUMDes Sempu Mandiri layak diteruskan. “Itu saat Musdes tahun 2017, saya dan beberapa anggota petani perempuan ikut juga, memberikan saran dan masukan. Saat itu kami juga ya usul soal pengembangan budidaya bunga ini agar dibantu untuk diperbesar skala usahanya,” kata Kartini.

Meski tak banyak, Kartini mengaku senang di Desa Sempu perempuan selalu dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan di tingkat desa. Tingkat kehadiran perempuan, kata dia, setidaknya antara 15-20 persen dalam setiap pertemuan. “Dalam setiap pengambilan keputusan di desa, selalu melibatkan kaum perempuan walaupun enggak banyak yang hadir, tetapi setidaknya suara kaum perempuan desa terwakili,” ujarnya.

Leave a Reply

COMMENTS