Desa Sempu: Membangun Kesejahteraan Lewat Nanas

Sugianto,Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Desa Sempu, Kediri, Jawa Timur

Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur, memang terkenal sebagai salah satu kecamatan penghasil nanas. Salah satu satu desa penghasil nanas di Kecamatan Ngancar adalah di Desa Sempu. Dengan luasan lahan sekira 600 hektare, Desa Sempu mampu menghasilkan produksi nanas sejumlah 30 ribu buah setiap harinya.

Sugianto, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki, Desa Sempu mengatakan, nanas memang merupakan sumber penghasilan utama para petani di desa tersebut. “Kami umumnya mengembangkan varietas nanas queen, disamping juga beberapa varietas lain seperti smooth cayenne dan nanas madu,” kata Sugianto.

Membudidayakan nanas, khususnya nanas queen, menurutnya lebih menguntungkan karena pasarannya lebih luas dari nanas madu. “Selain itu untuk keperluan olahan nanas juga umumnya menggunakan nanas jenis ini,” ujarnya.

Para anggota Kelompok Tani Sumber Rejeki sendiri yang berjumlah 39 orang, rata-rata membudidayakan nanas pada lahan seluas 20 are atau setara 2000 meter persegi. Hasilnya saat ini kata dia, lumayan menguntungkan.

Untuk nanas grade A dengan berat 7-8 ons per buah, umumnya dihargai di angka 2500-3000 rupiah. Sedangkan grade B di angka 1500-1800 rupiah per buah. “Kalau satu lahan mau menghasilkan keuntungan lebih, petani harus mampu menghasilkan nanas grade A sebanyak 70 persen,” katanya.

Kelompok Tani Sumber Rejeki sendiri terbentuk pada tahun 2011 lalu. “Ketika itu kami dari petani khususnya petani nanas punya ide untuk mengembangkan nanas. Artinya kita bertani bersama-sama, yang dulu dikelola secara kurang efektif, dengan berkelompok diharapkan bisa lebih efektif,” kata Sugianto.

Nanas menjadi pilihan karena memang nanas, khususnya di Sempu ini sudah menjadi komoditas andalan sejak dahulu. “Karena ekonomi Sempu itu memang yang lebih banyak dari nanas selain dari peternakan dan lainnya. Tapi yang utama itu petani nanas. Setiap rumah itu katakanlah punya nanas,” jelas Sugianto.

Sugianto mengatakan dengan terbentuknya kelompok tani ini, pertama, petani bisa berbagi pengalaman tentang tata cara menanam nanas, bagaimana cara budidaya yang lebih baik lagi. “Misalnya kita berbagi ilmu mengenai jarak tanam. Sebelumnya jarak tanam agak jauh jadi hasilnya kurang,” kata Sugianto.

Sebelum ada sharing pengetahuan budidaya nanas, kata Sugianto, petani dalam setiap 1 meter persegi lahan bisa menjejalkannya dengan 9-10 pohon. Akibatnya tanaman menjadi terlalu rapat dan pertumbuhan buah menjadi kurang baik. Sekarang, petani sudah memahami jarak tanam yang baik adalah dalam setiap 1 m2 diisi oleh 6-7 pohon.

“Dengan adanya pengetahuan ini, kami bisa menghasilkan produk yang lebih baik. Juga bisa irit pupuk jadi tanaman bisa maksimal pupuk sedikit,” ujarnya.

Kedua, berkelompok juga sangat menguntungkan dalam melakukan negosiasi harga saat menjual hasil panen. “Sempat penjualan harga kurang maksimal. Kalau ada kelompok bisa membicarakan soal harga. Katakanlah bisa sharing,” ujarnya. Ketiga, kata Sugianto, dengan adanya kelompok, petani kita membuat inovasi bersama.

Sugianto mengaku, banyak manfaat yang bisa dirasakan petani dari terbentuknya kelompok tani. Dulu misalnya, saban ada kebutuhan mendesak, petani akan menjual nanasnya secara ijon yang sangat merugikan. “Kadang ada yang butuh dana dari awal, baru tanam 2-3 bulan pohonnya sudah dijual, istilahnya ijon, dijual bukan buah tetapi pohon.

Harga ijon per pohon ini sangat jauh dari harga pasaran, yaitu hanya sebesar Rp400-Rp500 per pohon jika jenisnya baik. Padahal jika sudah berbuah, buahnya bisa dijual dengan harga berlipat kali dari harga pohon. “Kalau kita tahan sampai berbuah bisa 2000-2500 rupiah per buah, bahkan sampai 3000 rupiah per buah,” ujar Sugianto.

Dia bercerita, sebenarnya bertanam nanas sulit untuk bisa untung dengan luasan lahan yang hanya sekitar 20 are. “Untuk luas lahan sebesar itu, modal kita menanam bisa mencapai Rp12juta sampai Rp13 juta. Nanti untuk bisa menghasilkan harus menunggu hingga 18 bulan,” katanya.

Itu pun, kata dia, akan sangat tergantung seberapa banyak nanas grade A yang bisa dihasilkan. “Itu yang grade A, dalam satu hamparan nanas kalau kondisi tanahnya bagus bisa menghasilkan grade A sampe 50-60%. Tapi kalau tanahnya sudah ditanami nanas beberapa kali itu hanya 30-40% grade A yang hasilkan,” kata Sugianto

Dengan nanas grade A dihargai Rp2.500 per buah, maka petani jika mau untung harus bisa menghasilkan paling tidak 50% nanas grade A di lahannya. Sisanya barulah grade B yang dihargai Rp1.800 per buah dan juga grade C yang paling mahal dihargai Rp1.200 per buah.

Jika berhasil mencapai target, maka petani bisa menghasilkan antara Rp25 juta-Rp26 juta per 20 are lahan. Dikurangi modal, maka penghasilan petani hanya sebesar Rp13 juta-Rp14 juta. “Rata-rata sebulan memang kalau hanya menjual buah bisa menghasilkan Rp 1 juta saja,” kata Sugianto.

Karena itu, di sela-sela menunggu panen, biasanya petani melakukan usaha ternak atau juga memburuh tani pada lahan orang lain. “Petani yang lain saling membantu. Itu dibiayai dari yang mengerjakan,” katanya.

Selain itu ada juga yang sambil berdagang. “Kadang petani tuh kreatif, di pinggir lahan ditanami buah-buahan seperti alpukat, durian, cengkeh, kayu sengon. Itu kan untuk menopang kekurangan hasil dari panen nanas,” kata Sugianto.

Untuk bisa memberikan penghasilan lebih, kata Sugianto, memang petani minimal seharusnya memiliki lahan seluas 1 hektare. “Kalau mau ekonomis ya 1 hektare. Nanti kita tanam per 20 are, jarak dua bulan tanam lagi 20 are, begitu seterusnya hingga punya 5 petakan nanas,” ujarnya.

Dengan cara seperti itu, maka panen akan bisa digilir setiap bulan, dan penghasilan bisa lebih meningkat. Dalam masa panen, kelompok tani juga bisa “mengakali” penjualan dengan cara menjual nanas per paket yang diisi 10 buah nanas setiap paketnya. Untuk grade A se paket dijual seharga Rp40 ribu, sehingga harga per buahnya naik menjadi Rp4000. Sedangkan untuk grade B, dijual seharga Rp35.000.

Semua itu, kata Sugianto, sekali lagi sangat tergantung keberhasilan panen. Dia bercerita, bertanam nanas, meski menguntungkan dan relatif mudah di budidaya, namun bukan berarti tidak ada tantangan dan risiko. Buktinya pada tahun 2014 silam, umumnya petani nanas Desa Sempu, sempat kehilangan 50-60 persen hasil panennya akibat serangan tikus. “Tahun 2015 juga gagal total karena serangan ulat tanah,” katanya.

Untuk mengatasi hama tikus, petani Desa Sempu memang sempat mendapatkan bantuan dari organisasi pangan dunia FAO berupa burung hantu untuk memangsa hama tikus dan mengendalikan populasinya. “Tapi agak kurang berhasil karena tikusnya terlalu banyak, memang kami akui pemangsa alami seperti ular sangat jarang karena petani karena takut malah suka membunuh ular yang seharusnya bisa menjadi sahabat petani,” kata Sugianto.

Karena itu, ke depan, Sugianto berharap, usaha nanas ini bisa lebih berkembang dengan adanya usaha olahan nanas yang tengah dirintis oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Sempu. “Kalau diolah ada peningkatan nilai, saat ini usaha rintisan membuat minuman sari nanas oleh BUMDes sudah berjalan, tetapi skalanya masih kecil,” kata Sugianto.

Meski masih kecil, kata Sugianto, rintisan olahan nanas ini sangat berarti bagi petani. Pasalnya, peningkatan hasil dengan adanya olahan nanas, nilainya berlipat kali lebih tinggi daripada sekadar menjual buahnya.

“Hitungannya, dari sekitar 12-13 buah nanas itu bisa menjadi 4 kg nanas kupas, itu kalau diolah bisa menjadi 800 gelas sari nanas. Oleh BUMDes per gelasnya dijual seharga Rp875 per gelas. Sehingga menghasilkan sebesar Rp660 ribu. Jika hanya jual buah, 12-13 buah nanas grade A seharga Rp2.500 per buah hanya menghasilkan maksimal Rp32.500,” kata Sugianto.

Karena itu dia berharap, pemerintah bisa membantu pemerintah desa untuk mendirikan pabrik pengolahan nanas untuk wilayah sekitar Kecamatan Ngancar. “Ini tentu akan membantu karena ketika nanas petani tak terserap, maka pabrik bisa menyerap nanas petani untuk dibuat olahan apakah itu minuman sari nanas, koktail, keripik nanas, selai dan sebagainya,” katanya.

Untuk sementara, kata dia, BUMDes bisa juga berperan membantu petani memasarkan hasil panennya. “Harapan dari BUMDes ya supaya bisa petani ada satu pintu untuk berjualan produk nanas. Kita nanti dari kelompok tani bisa memberi masukan ke petani bahwa kita bisa menjual nanas satu pintu melalui BUMDes, bekerja sama dengan petani itu kan hasilnya lebih meningkat daripada langsung diambil tengkulak,” pungkasnya.

Leave a Reply

COMMENTS