Penelitian ini dilaksanakan di sentra produksi padi di Jalur Pantura (Karawang dan Subang) dan Jakarta.

Pelaku pasar beras terdiri dari petani sebagai produsen gabah, tengkulak desa atau pedagang, penggilingan kecil dan penggilingan besar, pedagang beras, dan pengecer. Petani produsen gabah memiliki karakteristik rata-rata skala penguasaan lahan usaha tani sekitar 0,3 ha/petani, sekitar 70% petani termasuk golongan masyarakat miskin atau berpendapatan rendah, 60% petani adalah netto konsumen beras, dan rata-rata pendapatan usaha tani memberikan kontribusi sekitar 30% dari total pendapatan rumah tangga.

Parapihak lain yang terdapat dalam rantai nilai beras yang ditemukan di lapang terutama dalam bidang usaha adalah calo desa, penebas tingkat desa, penggilingan padi kecil (PPK), tengkulak kecil dan besar, penggilingan padi besar (PPB), calo di Pasar Cipinang, BULOG, PT Food Station Tjipinang Jaya, Pasar Induk Beras Cipinang. Selain itu parapihak yang termasuk dalam pembuat kebijakan seperti Kementerian Perdagangan RI, Kementerian Pertanian RI dan juga lembaga pendidikan yang memiliki ketertarikan tinggi dalam pertanian yaitu IPB. Masing-masing parapihak tersebut memiliki peran dan kepentingannya dalam rantai nilai beras serta terpengaruh dampak atas perubahan–perubahan yang terjadi di perberasan. Perbedaan para pihak yang terlibat dalam rantai nilai perberasan dapat dilihat pada tabel.

No. Subang No. Kerawang
1 Petani 1 Petani
2 Penebas tingkat desa 2 Calo desa
3 PPK/mitra bulog 3 Tengkulak kecil
4 Bulog Sub-divre 4 Tengkulak besar
5 PPK
6 PPB
7 Calo di Cipinang
8 Bulog Sub-divre

Keterangan : PPK = Penggilingan Padi Kecil; PPB = Penggilingan Padi Besar

No Para pihak di Tingkat Nasional Kedudukan
1 PT Food Station Tjipinang Jaya (FSTJ) Jakarta
2 Koperasi Pedagang Beras Cipinang Jakarta
3 Pedagang di PIBC Jakarta
4 LPPM IPB Bogor
5 Dirjen Tanaman Pangan (Kementan) Jakarta
6 Dirjen Perdagangan Dalam Negeri (Kemendag) Jakarta
7 BULOG Jakarta
8 Non Government Organisation Bogor, Jakarta

 

Relasi parapihak dibangun oleh karena transaksi hasil panen padi atau oleh jasa penggilingan atau oleh hal lainnya. Relasi tersebut membentuk jaringan-jaringan antar pihak.

Jaringan antar parapihak dengan bentuk relasinya

Gambar: Jaringan antar parapihak dengan bentuk relasinya

Matriks analisis pemangku kepentingan dalam kebijakan harga gabah beras

Gambar:  Matriks analisis pemangku kepentingan dalam kebijakan harga gabah/beras

Diagram Pelangi untuk mngklasifikasikan parapihak berdasarkan tingkat mempengaruhi dan dipengaruhi isu harga padi dan beras

Gambar:  Diagram Pelangi untuk mengklasifikasikan parapihak berdasarkan tingkat mempengaruhi dan dipengaruhi isu harga padi dan beras

Setiap parapihak memiliki kepentingan, kebutuhan dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan itu harus dikelola dengan baik, sehingga dapat membangun kepentingan bersama. Untuk itu diperlukan suatu model pengelolaan yang dapat mengakomodir semua kepentingan dari para pihak dengan memperhatikan potensi, peran dan kepentingan dalam siklus usaha perberasan ini, khususnya dalam menjaga stabilitas harga padi dan beras yang adil. Salah satu opsi yang dapat diterapkan adalah pengelolaan kolaboratif. Prinsip dan nilai-nilai utama dalam pengelolaan kolaboratif adalah (i) mengakui adanya perbedaan nilai-nilai, kepentingan dan potensi dalam pengadaan dan distribusi beras; (ii) terbuka terhadap kemungkinan hadirnya model kemitraan; (iii) keterbukaan dan pemerataan informasi berkaitan dengan potensi yang ada dalam pengadaan dan distribusi beras; (iv) menghormati proses sebagai hal yang penting; dan (v) belajar dan bekerja melalui proses kegiatan dan selalu melakukan pengembangan dan perbaikan. Bentuk kolaboratif tersebut dapat bentuk platform nasional tentang perberasan berkelanjutan. Platform ini berisi kesepakatan, kriteria serta indikator yang memungkinkan semua pelaku rantai nilai bisnis yang berkelanjutan dan berkeadilan.

 

Laporan secara lengkap dapat diunduh di sini

Leave a Reply

COMMENTS